Viral..! Amankan Waro VS Tangga Baru Kapolres Bima Tidur Alaskan Gabah





Jurnal Bima, 4 Agustus 2020


Beredarnya photo seorang Kapolres di Nusa Tenggara Barat (NTB), yang melakukan aktifitasnya, seperti makan dan tidur di tenda, merupakan sebuah peristiwa menarik. Apalagi, yang dilakukan oleh Kapolres Bima, AKBP Gunawan Trihatmoyo SIK., tidak lain dalam rangka melakukan pengamanan wilayah atau desa yang sedang dilanda konflik horizontal.

Penilaian ini disampaikan Dr. Sidratahta Mukhtar, Dosen Program Doktor STIK PTIK melalui keterangan tertulisnya, Senin (3/8/2020).

Dosen S2 SKSG UI dan sebagai Dosen tetap Ilmu Politik UKI, asal Bima NTB itu menyebut kalau langkah Kapolres Bima tersebut penting untuk melihat sebagai metode penanganan konflik dalam masyarakat yang kerapkali terbelah karena beragam kondisi.

“Tentunya apa yang dilakukan Kapolres NTB itu merupakan persitiwa menarik, dan patut mendapat apresiasi positif,” kata Sidratahta lagi.

Sebagaimana diketahui, lanjut Sidratahta, masyarakat Bima adalah suku bangsa yang religius, mengalami beberapa ratus tahun penerapan syariah Islam dimasa Kesultanan hingga daerah Bima bergabung ke NKRI awal tahun 1940an.

Ada mahasiswa kami S3 PTIK asal Bima, Dr. Ikhwanuddin pernah meneliti tentang budaya kekerasan dan pendekatan penanganannya. Ia berkesimpulan, potret budaya Bima sangat inklusif, mudah menerima budaya luar dan ada semangat maskulin dalam tradisi masyarakat khususnya dikalangan anak muda,” bebernya.

Karena itu, menurut penilaiannya, disini lah letak baiknya pendekatan yang dilakukan oleh Kapolres Bima, yang rela tidur ditenda demi menjaga Bima tetap aman dan bebas konflik. Padahal bisa saja dia langsung perintahkan personilnya untuk bertindak dengan hard approach, cara-cara represif.

“Tapi saya tidak tahu berapa lama dia bertugas di Bima untuk cepat mengerti kondisi sosial budaya dan keislaman masyarakat Bima yang insklusif itu,”katanya.

Namun apa yang ia lakukan Kapolres Bima itu, menurut Sidratahta adalah sebuah keteladanan agar setiap muncul konflik dapat cepat diatasi, sebelum konflik menjadi budaya baru masyarakat khususnya pasca panen dan saat kontestasi politik Pilkada dimulai.

“Pada dasarnya PR (pekerjaan rumah) yang perlu terus dikembangkan dalam reformasi Polri adalah tentang reformasi budaya agar Polri benar-benar sebagai bagian dari sipil, civil in uniform agar pengedepankan pelayanan publik, keteladanan dan berorientasi pemecahan masalah,atau meminjam konsep Mendagri M.Tito Karnavian sebagai smart approach,” pungkasnya.

Apa yang dilakukan oleh Kapolres Bima, AKBP Gunawan Tri Hatmoyo, S. Ik, bersama dan Dandim 1608 Bima, Lelkol Inf Teuku Mustafa Kamal adalah untuk meredam konflik berkepanjangan antar kelompok warga Desa Waro dan Tangga Baru, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima, NTB, pasca kasus penganiayaan yang menewaskan Candra Irawan, warga Desa Waro, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima, Kamis (30/72020) lalu.

Aparat terus bekerja keras siang dan malam. Menggalang solidaritas agar kedua kelompok desa tidak saling serang. Kerja keras aparat patut mendapatkan apresiasi, siang malam bersiaga dan lakukan penggalangan terhadap masyarakat dua desa yang bentrok.

Dandim Bima mengajak seluruh masyarakat desa Waro, untuk ikhlas menerima musibah yang telah terjadi, sebab manusia telah digariskan untuk menghadap sang khaliq. Bahkan, pria asal Aceh ini mengatakan, tidak ada gunanya menyimpan dendam dan melampiaskannya ke orang yang tidak bersalah. Apalagi merusak dan membakar rumah-rumah.

“Kita harus menerima kenyataan dengan hati yang lapang dan tabah, doakan semoga almarhum diterima disisi Allah, jangan menciptakan masalah baru,” harapnya.

Dia juga berharap kepada warga Waro, jangan percaya isu yang sengaja disebarkan oleh oknum yang ingin memecahbelah hubungan antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya.
Dandim Bima mengajak seluruh masyarakat desa Waro, untuk ikhlas menerima musibah yang telah terjadi, sebab manusia telah digariskan untuk menghadap sang khaliq. Bahkan, pria asal Aceh ini mengatakan, tidak ada gunanya menyimpan dendam dan melampiaskannya ke orang yang tidak bersalah. Apalagi merusak dan membakar rumah-rumah.

“Kita harus menerima kenyataan dengan hati yang lapang dan tabah, doakan semoga almarhum diterima disisi Allah, jangan menciptakan masalah baru,” harapnya.

Dia juga berharap kepada warga Waro, jangan percaya isu yang sengaja disebarkan oleh oknum yang ingin memecahbelah hubungan antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya.

“Jangan percaya isu, sebab akan memprovokasi masyarakat, mari kita serahkan pada proses hukum, jangan main hakim sendiri yang dapat merugikan diri pribadi dan orang banyak,” kata dia.

Sementara Kapolres Bima, AKBP Gunawan Tri Hatmoyo, S. Ik, menyampaikan hal sama. Menciptakan konflik tidak ada gunanya, sebab akan menghambat segala bentuk kegiatan terutama tidak lancarnya ekonomi masyarakat.

“Tidak ada gunanya lakukan konflik berkepanjangan, semua aktivitas masyarakat terhambat kalau konflik terus berkelanjutan,” katanya.

Upaya cipta kondisi dilakukan TNI Polri tidak akan membuahkan hasil apabila tidak ada kesadaran dan kerja sama masyarakat.

“Mari kita sama-sama menjaga keharmonisan antar satu dengan yang lain, kita ciptakan kondisi yang kondusif aman dan jangan ada kekutiran, serahkan prosesnya ke kami penegak hukum,” ujarnya. 


( Dan )