SYAFAAD Di Sape, Warga "Peristiwa Sape Berdarah Jadi Momok Bupati Dinasti"

  




Jurnal Bima, 25 Oktober 2020



Kampaye SYAFAAD Di Kecamatan Sape minggu (25/10) melengkapi kampaye putaran ke 2 di Kecamatan wilayah bima timur.



Setelah sebelumnya di Kecamatan Ambalawi, Wera, Wawo dan Lambu kini diakhiri dengan kecamatan Sape.


Ribuan masyarakat tumpah ruah menyambut jargon perubahan berkunjung di kecamatanya uvoria sambut si Raja Blusukan "Ady Mahyudi" menjadi kondisi histris saat sang idola tiba dikecamatan Sape.



Sang baret merah, Srikandi, milenial melebur menyambut paslon yang dianggap mampu merubah kondisi tatanan bima lebih baik kedepan.



Bukan saja itu saat blusukan paslon SYAFAAD beberapa pemuda menyampaikan keluh kesahnya kepada paslon SYAFAAD yaitu merekan menceritakan masalah yang mereka pernah alami selama kepempinan sekarang.



Indra (26 tahun) menyampaikan setiap demo yang disampaikan di kantor Bupati tidak pernah dihiraukan kami ingin ganti bupati karena pemimpin seharusnya mendegarkab keluh kesah masyrakatnya.



Lanjut dirinya juga sampaikan bahwa selama kepemipinan dinasti tidak pernah kesejatraan yang kami dapat justru kami mendaptkan kejadian yang tidak harus kami dapatkan".


Peristiwa sape berdarah tahun 2011 dan beberapa tahun kemarin mesih menjadi momok bagi warga Sape intinya ganti bupati kami tidak ingin bupati dari dinasti lagi" ucapnya.


Setelah mendegarkan keluhan masyarakat sang raja blusukan melanjutkan kampaye blusukannya hingga pukul 18.00 WITA.



( Dan )